CONTOH PTK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan pendidikan di sekolah yang berbasiskan proses pembelajaran di kelas pada hakekatnya merupakan tanggung jawab semua pihak, baik sekolah, pemerintah maupun masyarakat. Pihak sekolah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan proses pendidikan, pemerintah pemegang keputusan kebijakan, sedangkan masyarakat pendukung sumber daya yang diperlukan sekolah. Secara khusus dalam kenyataan pihak sekolah yang lebih banyak berperan dalam mewujudkan tujuan pendidikan di sekolah melalui peran kepala sekolah dan para gurunya. Kepala sekolah berperan sebagai manajer, pemimpin, administrator, dan supervisor pendidikan, sedangkan guru berperan dalam melaksanakan pembelajaran bersama siswa di dalam kelas. Oleh karena itulah sebenarnya peranan guru yang sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Keadaan tersebut dikarenakan guru merupakan ujung tombak pembelajaran yang apabila gagal sering dialamatkan kepadanya.
Guru merupakan sosok yang bekeradaannya tidak dapat digantikan oleh media atau fasilitas pembelajaran apapun. Kehadiran guru masih tetap diperlukan, sebagaimana dikemukakan Sopandi (1992:23) “kehadiran guru sebagai sosok yang berdiri di depan kelas keberadaannya sampai kapanpun tidak dapat digantikan oleh media pembelajaran secanggih apapun.
Guru harus tetap melaksanakan pembelajaran secara langsung di depan siswa”. Oleh karena itu apapun alasannya guru harus mengajar langsung di depan siswa agar tujuan pembelajaran yang ditetaptapkan dapat tercapai.
Seiring dengan perkembangan jaman, yang berdampak terhadap perubahan kurikulum pembelajaran, kualitas pembelajaran perlu selalu ditingkatkan. Keadaan tersebut dapat dimulai dengan peningkatan kompetensi para guru, baik dalam menyampaikan meteri, menggunakan metode dan teknik mengajar yang tepat, menggunakan media pembelajaran maupun kebutuhan peserta didik. Guru yang profesional pada hakekatnya adalah mampu menyampaikan materi pembelajaran secara tepat sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik. Namun demikian untuk mencapai ke arah tersebut perlu berbagai latihan, penguasaan dan wawasan dalam pembelajaran, termasuk salah satunya menggunakan model dan metode pembelajaran yang tepat. Dalam pembelajaran Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia, guru tidak cukup terfokus hanya pada satu model dan metode tertentu saja. Guru perlu mencoba menerapkan berbagai model dan metode yang sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran, termasuk dalam penerapan model pembelajaran kooperatif dengan metode belajar kelompok. Pemilihan model dan metode yang tepat tersebut akan dapat meningkatkan pencapaian hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan.
Model pembelajaran kooperatif dengan metode belajar kelompok sangat tepat dalam membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapi bersama, sehingga pemahaman setiap siswa menjadi merata. Keadaan tersebut sebagaimana dikemukakan Mudjiono (2002:4) bahwa belajar kelompok memiliki beberapa keuntungan, yaitu :
1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional;
2. Mengembangkan sikap sosial dan semangat gotong royong dalam kehidupan;
3. Mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar, sehingga tiap anggota merasa diri sebagai bagian kelompok yang bertanggung jawab; dan
4. Mengembangkan kemampuan kepemimpinan-kepemimpinan pada tiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok.

Berdasarkan konsep tersebut menunjukkan bahwa metode belajar kelompok perlu diterapkan dan dikembangkan guru dengan terlebih dahulu menguasai strategi atau langkah-langkahnya. Metode pembelajaran, termasuk metode belajar kelompok merupakan variasi guru dalam melaksanakan pembelajaran selain yang konvensional dalam bentuk ceramah. Guru perlu secara cermat memilih materi yang tepat untuk menggunakan metode belajar ini, sehingga hasil belajar siswa lebih optimal. Keberadaan penerapan metode belajar kelompok untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sangat diperlukan. Para siswa dapat saling sharing pengetahuan dalam pengambilan keputusan untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi bersama. Keadaan tersebut memberikan manfaat sebagai pengalaman belajar yang nyata bagi
para siswa apalagi pada pelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial secara keseluruhan lebih menekankan kepada aspek kognitif (pengetahuan) dibandingkan dengan hanya memahami konsep secara abstrak saja.
Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan selaajutnya menarik untuk dikaji lebih lanjut dalam bentuk penelitian, sehingga judul yang ditetapkan : “Upaya Peningkatan Pengetahuan Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia pada Siswa Kelas VI SD dengan Metode Belajar Kelompok”.

B. Identifikasi Masalah
Permasalahan pembelajaran merupakan hal yang sangat kompleks yang dialami guru dan siswa. Permasalahn guru adalah cara menyampaikan materi pelajaran yang tepat, sedangkan siswa menyerap materi pelajaran secara keseluruhan (tuntas). Berbagai upaya telah dilakukan kepala sekolah, guru dan siswa dalam memecahkan permasalahan tersebut, namun demikian dari waktu ke waktu permasalahan tersebut tetap ada, seiring dengan perubahan dan perkembangan dunia pendidikan. Demikian pula halnya dengan pembelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia ada kendala beberapa permasalahan yang ditemui berdasarkan hasil observasi adalah sebagai berikut.
1. Menurunnya aktivitas siswa dalam pembelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia dengan ditandai sedikitnya pengetahuan siswa dan sedikit pertanyaan yang dijawab oleh siswa.
2. Tidak semua siswa memiliki buku ajar sesuai dengan yang dianjurkan guru.
3. Nilai rata-rata setiap ulangan berkisar 6,0 dengan tingkat ketuntasan belajar 61% yang berarti belum mencapai tuntas belajar.
4. Untuk saat sekarang peraga, media pembelajaran manual dan elektronik, e-book, e-mail, belum ada, sehingga dalam kegiatan belajar mengajar guru cenderung menggunakan pembelajaran model ceramah, sehingga siswa menjadi jenuh.
Jika kondisi tersebut tidak segera diperbaiki, maka akan lebih menurunkan kualitas pembelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia. Oleh karena itu agar proses pembelajaran lebih menarik, guru perlu mendesain proses pembelajaran dengan salah satunya menerapkan model pembelajaran kooperatif melalui metode diskusi kelompok.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah yang ditetapkan adalah “Upaya Peningkatan Pengetahuan Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia pada Siswa Kelas VI SD dengan Metode Belajar Kelompok”.

D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah :

1. Tujuan Umum
1. Untuk Siswa
Untuk meningkatkan pengetahuan terutama pelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

2. Untuk Guru
Menambah pengalaman guru dalam pembelajaran dengan penerapan metode belajar kelompok, sehingga dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa pada pelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

2. Tujuan Khusus
1. Untuk Siswa
a. Untuk meningkatkan prestasi terutama pelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia dengan belajar kelompok.

2. Untuk Guru
a. Memperbaiki metode belajar kelompok mata pelajaran Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia yang telah ada secara lebih menarik, merangsang kreativitas dan menambah motivasi bagi siswa.


E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan masukan kepada Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan dan Dinas Dikpora beserta jajarannya pada pengembangan ilmu pengetahuan khususnya penerapan metode belajar kelompok untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa mata pelajaran Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia untuk kelas VI.
b. Memperkaya khasanah pendidikan yang berhubungan dengan proses kegiatan belajar-mengajar Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia di sekolah.

2. Manfaat Praktis :
a. Murid, yaitu meningkatnya nilai kreativitas, motivasi belajar, sikap ilmiah, kedisiplinan dan tanggung jawab.
b. Guru, yaitu menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya, meningkatkan kinerja yang lebih profesional dan penuh inovasi serta memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya.
c. Sekolah, yaitu mengembangkan kualitas sekolah yang lebih kondusif dan penuh dengan daya inovasi maupun kreativitas.
d. Institusi Pendidikan : Dengan memahami dan kemudian mencoba melaksanakan penelitian tindakan kelas, maka kemampuan pendidik dalam proses pembelajaran makin meningkat kualitasnya.
BAB II
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Kajian Teori
1. Hakekat Belajar Mengajar
Winkel (Darsono 2001:4) mengemuakakan “belajar adalah suatu aktivitas mental psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan-pengetahuan keterampilan dan nilai sikap”. Dengan demikian belajar merupakan hasil interaksi antara individu dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan kemampuan tingkah laku dan keterampilan ke arah yang lebih baik. Sedangkan konsep mengajar Sudjana (2000:29) mengemukakan “sebagai suatu proses, yaitu mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar dan pada tahap berikutnya adalah memberikan bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar”.
Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa belajar mengajar merupakan interaksi antara siswa dan guru di dalam kelas untuk melaksanakan proses pembelajaran sehubungan dengan materi tertentu.

2. Kriteria Tuntas Belajar
Kriteria ketuntasan belajar adalah sebagai berikut.
a. Setiap materi/pokok uji/soal/ yang merupakan ketercapaian TIK mencapai ketuntasan apabila telah dikuasai oleh 65% siswa sekelas.
b. Setiap siswa mencapai ketuntasan belajar bila telah menguasai sekurang-kurangnya 65% (atau memperoleh nilai 6,5) dari keseluruhan materi pokok uji.
c. Setiap kelas siswa (seluruh siswa dalam kelas) mencapai ketuntasan belajar bila jumlah siswa yang memperoleh nilai 6,5 sebanyak 85% dari jumlah siswa di kelas itu. (Tim Khusus 2003:3)

3. Komunikasi dalam Proses Belajar Mengajar
Ada tiga pola komunikasi yang dapat digunakan untuk mengembangkan interaksi dinamis antara guru dan siswa, sebagaimana dikemukakan Sudjana (2000:45) yaitu : a) komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah, b) komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, dan c) komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai tran-aksi.

4. Tipe Hasil Belajar
Tipe hasil belajar terdiri dari : ranah kognitif, afektif dan psikomotor (Bloom dalam Dimyati 2002:26).
Dalam penelitian ini hanya ranah kognitif saja, meliputi : a) tipe hasil belajar pengetahuan hafalan, b) pemahaman, c) penerapan, d) analisis, e) sintesis dan f) evaluasi. (Sularyo 2004:9).

5. Pembelajaran Kelompok
Kerja kelompok adalah kegiatan sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil, yang diorganisir untuk kepentingan belajar, di mana keberhasilan kelompok ini menuntut kegiatan yang kooperatif dari individu anggota kelompok tersebut (Robert L. Cilstrap dan William R. Martin dalam Roestiyah 2001:45). Sedangkan Dimyati dan Mudjiono (2002:34) mengemukakan kerja kelompok berarti kerja kepemimpinan dan keterpimpinan yang perlu dipelajari siswa untuk bekal dalam kehidupannya nanti”.
Dengan demikian pembelajaran kelompok berhubungan dengan proses belajar yang dilakukan siswa secara bersama-sama melalui komunikasi interaktif dengan dipimpin oleh seorang pemimpin untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi sehubungan dengan materi pelajaran.

6. Keuntungan Pembelajaran Kelompok
Nasution (2000:34) mengemukakan beberapa manfaat dar kerja kelompok sebagai berikut.
a. Mempertinggi hasil belajar, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
b. Keputusan kelompok lebih mudah diterima setiap anggota, bila mereka turut memikirkan dan memutuskan bersama-sama.
c. Mengembangkan perasaan sosial dan pergaulan sosial yang baik.
d. Meningkatkan rasa percaya diri anggota kelompok.

Sedangkan Rustiyah (2001:32) keuntungan menggunakan teknik kerja kelompok adalah : a) mengembangkan keterampilan bertanya, b) siswa lebih intensif dalam melakukan penyelidikan, c) mengembangan bakat kepemimpinan, d) guru lebih memperhatikan siswa, e) siswa lebih aktif, dan f) mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar siswa.

7. Ciri-ciri Pembelajaran Kelompok
Ciri-ciri yang menonjol dalam pembelajaran kelompok adalah : a) siswa sadar sebagai anggota kelompok, b) siswa memiliki tujuan bersama, c) siswa memiliki rasa saling membutuhkan, d) interkasi dan komunikasi antar anggota, e) ada tindakan bersama dan f) guru bertindak sebagai fasilitator, pembimbing dan pengendali ketertiban kerja.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut menunjukkan bahwa metode pembelajaran kelompok dapat membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi secara bersama-sama.

B. Penelitian yang Relevan
Pada saat ini peneliti belum menemukan penelitian yang relevan dengan penelitian yang berjudul “ Upaya Peningkatan Pengetahuan Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia”, dengan metode pembelajaran kelompok, peneliti mencoba menggali pengetahuan siswa terutama untuk meningkatkan Pengetahuan Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia dengan belajar kelompok. Karena dalam belajar kelompok siswa lebih banyak menyerap materi untuk didiskusikan, menemukan dan melakukan tukar pengalaman dengan kelompoknya, sehingga siswa mudah menyerap pengetahuan yang diberikan oleh guru.
1. Burton (Nasution 2000:56) menjelaskan “kerja kelompok ialah cara individu mengadakan relasi dan kerjasama dengan individu lain untuk bekerja sama. Relasi di dalam kelompok demokratis artinya setiap individu berpartisipasi, ikut serta secara aktif dan turut bekerjasama, sehingga individu akan memperoleh hasil belajar yang lebih baik dan mengalami perubahan sikap”.
2. Bentuk pembelajaran kelompok model Jigsaw yaitu anggota kelompok diberi tugas yang berbeda satu dengan lainnya dari satu pokok bahasan. Agar masing-masing tetap mengetahui keseluruhan pokok bahasan yang dibahas dalam kelompoknya, tes diberikan dengan menyeluruh dengan penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelopok.
3. Bentuk pembelajaran kelompok model STAD (Student Team Achievement Division) yaitu siswa dalam kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Anggota-anggota dalam kelompok saling belajar dan membelajarkan. Fokus yang ditekankan adalah keberhasilan seorang anggota akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok. Demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa.

C. Kerangka Berpikir
Penerapan metode belajar kelompok yang dilakukan guru untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa merupakan bentuk kreativitas dalam mengajar. Melalui metode ini siswa saling berinteraksi dalam mengemukakan pendapat untuk memecahkan masalah bersama. Setiap ide yang dimiliki siswa ditungkan, ditampung untuk dilanjutnya dimodifikasi sebagai iden bersama dalam menyelesaikan permasalahan.
Adanya metode belajar kelompok menjadikan aktivitas belajar siswa menjadi lebih tinggi. Untuk kelancaran penerapan metode ini guru perlu mengeliminer dominasi beberapa siswa, sehingga pengetahuan yang diperoleh menjadi lebih merata. Secara sederhana penerapan metode belajar kelompok untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa dapat digambarkan dalam bentuk kerangka berpikir sebagai berikut :

D. Hipotesis Tindakan
Suharsimi Arikunto (1998:62) mengemukakan “hipotesis merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul dan sekurang-kurangnya mengandung dua variabel atau lebih”.
Berdasarkan konsep tersebut, maka peneliti mengemukakan hipotesis penelitian yaitu : “Penerapan metode belajar kelompok dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa mata pelajaran IPS konsep Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia untuk kelas VI SD.
Berdasarkan kerangka berfikir tersebut di atas maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut, dengan diberikan penerapan metode belajar kelompok dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa materi Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia Perkembangan Sistim Administrasi Wilayah Indonesia untuk kelas VI SD dapat tuntas belajar sekurang-kurangnya 30% dari kondisi awal .

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Seting Penelitian
Seting penelitian yang diamati adalah mutu proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagai akibat dari penerapkan metode belajara kelompok.
Untuk memperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan fokus penelitian adalah dengan mengamati kegiatan guru dalam menciptakan kondisi aktif selama diskusi serta ketuntasan hasil belajar siswa.

B. Subyek Penelitian
Subjek penelitian merupakan responden yang akan dijadikan sasaran penelitian dan dijadikan sebagai bahan pengambilan data informasi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Adapun subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD N Kalibogor UPTD Dikpora Kecamatan Sukorejo berjumlah 22 siswa yang terdiri dari 17 laki-laki, dan 5 perempuan.

C. Sumber Data
a. Siswa : Hasil pretes, hasil postes dan hasil wawancara
b. Guru : Hasil observasi/pengamatan
Jenis data yang dikumpulkan adalah data kuantitatif dan data kualitatif.
1) Data Kuantitatif : Daftar nilai siswa
2) Data Kualitatif : Daftar nilai perkembangan siswa

D. Tehnik dan Alat Pengumpul Data
Teknik dan alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah sebagai berikut.
1. Teknik survey meliputi : a) wawancara terhadap 5 orang siswa secara langsung dengan pedoman wawancara. Kriteria siswa yang diwawancarai berupa 1) siswa tidak mencapai tuntas belajar, dan 2) kurang minat belajar dengan indikasi kurang respon dalam proses KBM. b) angket dibagikan kepada semua siswa dalam kelas penelitian, dan c) checklist observasi dan catatan lapangan dilakukan oleh kolaborator.
2. Teknik test yang digunakan untuk mengetahui perubahan hasil belajar dari konsep yang telah diajarkan dalam bentuk soal pilihan ganda.
3. Teknik dokumentasi yang digunakan untuk mendapatkan karakteristik siswa yang mengalami kesulitan belajar dari daftar nilai ulangan harian dan buku pekerjaan rumah.
Adapun alat/instrumen pengambil data yang digunakan untuk observasi kegiatan penelitian ini adalah :
1. Pedoman wawancara siswa untuk mengetahui dampak tindakan.
2. Lembar observasi aktivitas siswa dan guru dalam KBM untuk melihat aktivitas siswa dan guru.
3. Seperangkat tes, untuk mengetahui kemajuan hasil belajar akibat tindakan kelas.
4. Angket untuk mengetahui aktivitas siswa dan guru dalam KBM
5. Catatan lapangan oleh kolaborator.
E. Validasi Data
Validitas tes dilakukan dengan cara : 1) Face Falidity (anggota AR saling mengecek validitas instrumen), dan 2) content (isi tes sesuai dengan materi yang diajarkan/sesuai dengan isi kurikulum).

F. Analis Data
Data yang dipergunakan untuk dianalisis terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer bersumber dari : 1) observasi, 2) wawancara siswa, dan 3) angket. Sedangkan data sekunder bersumber dari : 1) daftar nama siswa yang tidak tuntas belajar, 2) daftar nilai ulangan harian, dan 3) buku pekerjaan rumah (PR).
Semua data yang ada, baik data primer maupun sekunder diolah dengan mencari rata-rata setiap nilai test kemudian dijumlah dan dicari rata-rata keseluruhan selanjutnya hasilnya disesuaikan dengan indikator belajar tuntas yang diharapkan dalam bentuk persentase.

G. Indikator Kinerja
Indikator kinerja dalam penelitian tindakan kelas ini, diharapkan pada akhir siklus 2 terjadi peningkatan prestasi belajar siswa yaitu dari nilai rata-rata ulangan harian sebesar 60,00 menjadi 70,00 atau dari kategori Cukup menjadi Baik.
Selain itu, juga terjadi meningkatnuya pengetahuan siswa pada materi pelajaran perkembangan sistim administrasi wilayah Indonesia menjadi lebih besar.
Sebagaimana ditunjukkan oleh tiga siklus tersebut di atas, pada akhir penelitian jumlah siswa kelas VI SD N Kalibogor yang bertambah pengetahuannya dan menguasai materi pelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia meningkat dengan baik secara nyata.

H. Prosedur Penelitian
1. Perencanaan
Persiapan yang dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut:
1) Penyusunan rencana pembelajaran dan skenario pembelajaran membaca dengan menggunakan Latihan Persepsi.
2) Membuat media pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan diajarkan.
3) Penyusunan alat evaluasi tindakan berupa:
a) Pedoman wawancara (untuk siswa, guru, dan kolaborator)
b) Lembar observasi kegiatan belajar mengajar
c) Learning logs siswa
d) Soal evaluasi dan tugas

2. Tindakan
Tindakan dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat, meliputi:
a. Pembuka
1. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok
b. Inti Pembelajaran
1. Siswa melakukan kegiatan membaca untuk menemukan kebiasaan membaca siswa, baik kebiasaan yang mendukung dan kebiasaan yang menghambat.
2. Siswa menemukan kebiasaan yang mendukung dan kebiasaan yang menghambat. Kebiasaan yang baik (mendukung) perlu dikembangkan dan kebiasaan yang menghambat (buruk) perlu ditinggalkan.
3. Siswa melaksanakan kegiatan belajar berkelompok dengan materi Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia, secara bergantian masing-masing kelompok melaksanakan kegiatan diskusi dan menjawab pertanyaan yang telah tersedia .

c. Penutup
1. Guru bersama siswa menilai isi, proses, dan hasil menggunakan teknik ini.
2. Pemberian penguatan dan kesimpulan dari guru.

3. Observasi
Observasi pelaksanaan tindakan/ pembelajaran dilakukan secara kolaboratif dengan menggunakan format pengamatan proses pembelajaran. Evaluasi hasil pengamatan juga dilaksanakan secara kolaboratif dengan mengolah data yang telah diperoleh dan memaknainya serta menentukan keberhasilan dan pencapaian tindakan dan atau hasil sampingan dari pelaksanaan tindakan.

4. Refleksi
Hasil observasi dan evaluasi dianalisis. Berdasarkan analisis ini guru peneliti bersama kolaborator dan siswa melakukan refleksi diri untuk menentukan perencanaan dan tindakan berikutnya. Refleksi juga didasarkan atas jurnal yang dibuat guru setelah selesai melaksanakan tindakan/ pembelajaran dan learning logs yang dibuat siswa serta hasil kerja siswa yang dikumpulkan atau dipresentasikan, dan hasil kerja kelompok.

5. Revisi/ Perencanaan
Penelitian ini dinyatakan berhasil bila pembelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia dengan belajar kelompok dapat meningkatkan jumlah siswa yang menguasai dan memahami lebih baik terhadap pengetahuan materi pelajaran Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia dengan target peningkatan yang hendak dicapai sekurang- kurangnya 30% dari kondisi awal (sebelum pelaksanaan tindakan). Pemahaman dan penguasaan konsep Perkembangan Sistem Administrasi Wilayah Indonesia ditunjukkan oleh meningkatnya hasil belajar siswa tampak pada
Pada Siklus 2
Sekurang-kurangnya 75% siswa kelas VI SD N Kalibogor mendapat nilai ulangan harian 68.

Pada Siklus 3
Sudah tercapai 85 % dan aktivitas siswa dalam PMB meningkat.

JADWAL PENELITIAN TINDAKAN PENELITIAN KELAS

Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses penelitian ini diperkirakan seluruhnya adalah selama 3 bulan. Dengan rincian sebagai berikut.
No Jenis Kegiatan Alokasi Waktu
Juli Agust Sept Oktober Nopem
1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4
1. Penyerahan proposal kepada LPMP

2. Seleksi proposal
3. Pengambilan Data Awal
4



Siklus 1
a. Perencanaan
b. Tindakan dan Observasi
c. Refleeksi

5

Siklus 2
a. Perencanaan
d. Tindakan dan Observasi
e. Refleksi

6
Siklus 3
a. Perencanaan
b. Tindakan dan Observasi
c. Refleksi


7 Tabulasi
8 Penyusunan Laporan
9
Penyerahan Laporan (Sementara)
10 Revisi Laporan

11 Penjilidan Laporan

12 Penyerahan Laporan


DAFTAR PUSTAKA


Arikunto. S. 1998. Prosedur Penelitian Ilmiah. Jakarta : Rineka Cipta.

Darsono. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press.

Dimyati. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Nasution. 2000. Didaktik Azas-azas Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Sudjana. 2000. Metode Statistik. Bandung : Tarsito.

Sugiono. 1999. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.

Supandi. 1992. Peranan Guru dalam Proses Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud.

Tim Khusus. 2000. Pola Pelaksanaan Belajar Tuntas dan Analisis Ketuntasan Belajar. Jakarta : Depdiknas

Wibawa. A. 2003. Pendekatan Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Gramedia
Labels : news investment systems Anti Vir free template car body design

0 Response to "CONTOH PTK"